<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Spektakuler</title>
	<atom:link href="http://spektakuler.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://spektakuler.com</link>
	<description>Hebatkan Dirimu</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 06:58:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
		<item>
		<title>Balasan Nan Indah</title>
		<link>http://spektakuler.com/balasan-nan-indah/</link>
		<comments>http://spektakuler.com/balasan-nan-indah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Feb 2012 00:00:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[indah]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spektakuler.com/?p=761</guid>
		<description><![CDATA[Abu Ibrahim bercerita, Suatu ketika, aku jalan-jalan di padang pasir dan tersesat tidak bisa pulang. Di sana kutemukan sebuah kemah lawas. Kuperhatikan kemah tersebut, dan ternyata di dalamnya ada seorang tua yang duduk di atas tanah dengan sangat tenang. Ternyata orang ini kedua tangannya buntung, matanya buta, dan sebatang kara tanpa sanak saudara. Kulihat bibirnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://spektakuler.com/wp-content/uploads/2012/02/7-2-2012.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-762" title="7 - 2- 2012" src="http://spektakuler.com/wp-content/uploads/2012/02/7-2-2012.jpg" alt="" width="346" height="260" /></a></p>
<p>Abu Ibrahim bercerita,</p>
<p>Suatu ketika, aku jalan-jalan di padang pasir dan tersesat tidak bisa pulang. Di sana kutemukan sebuah kemah lawas. Kuperhatikan kemah tersebut, dan ternyata di dalamnya ada seorang tua yang duduk di atas tanah dengan sangat tenang.</p>
<p>Ternyata orang ini kedua tangannya buntung, matanya buta, dan sebatang kara tanpa sanak saudara. Kulihat bibirnya komat-kamit mengucapkan beberapa kalimat. <span id="more-761"></span></p>
<p>Aku mendekat untuk mendengar ucapannya, dan ternyata ia mengulang-ulang kalimat berikut:</p>
<p>Segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia… Segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia…</p>
<p>Aku heran mendengar ucapannya, lalu kuperhatikan keadaannya lebih jauh. Ternyata sebagian besar panca inderanya tak berfungsi. Kedua tangannya buntung, matanya buta, dan ia tidak memiliki apa-apa bagi dirinya.</p>
<p>Kuperhatikan kondisinya sambil mencari adakah ia memiliki anak yang mengurusinya? Atau isteri yang menemaninya? Ternyata tak ada seorang pun.</p>
<p>Aku beranjak mendekatinya, dan ia merasakan kehadiranku. Ia lalu bertanya: “Siapa? siapa?”</p>
<p>“Assalaamu’alaikum… aku seorang yang tersesat dan mendapatkan kemah ini” jawabku, “Tapi kamu sendiri siapa?” tanyaku.</p>
<p>“Mengapa kau tinggal seorang diri di tempat ini? Di mana isterimu, anakmu, dan kerabatmu? lanjutku.</p>
<p>“Aku seorang yang sakit, semua orang meninggalkanku, dan kebanyakan keluargaku telah meninggal” jawabnya.</p>
<p>“Namun kudengar kau mengulang-ulang perkataan: “Segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia!! Demi Allah, apa kelebihan yang diberikan-Nya kepadamu, sedangkan engkau buta, faqir, buntung kedua tangannya, dan sebatang kara?!?” ucapku.</p>
<p>“Aku akan menceritakannya kepadamu. Tapi aku punya satu permintaan kepadamu, maukah kamu mengabulkannya?” tanyanya.</p>
<p>“Jawab dulu pertanyaanku, baru aku akan mengabulkan permintaanmu” kataku.</p>
<p>“Engkau telah melihat sendiri betapa banyak cobaan Allah atasku, akan tetapi segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia. Bukankah Allah memberiku akal sehat, yang dengannya aku bisa memahami dan berfikir?”</p>
<p>“Betul” jawabku. lalu katanya: “Berapa banyak orang yang gila?”</p>
<p>“Banyak juga” jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia” jawabnya.</p>
<p>“Bukankah Allah memberiku pendengaran, yang dengannya aku bisa mendengar adzan, memahami ucapan, dan mengetahui apa yang terjadi di sekelilingku?” tanyanya.</p>
<p>“Iya benar”, jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tersebut” jawabnya.</p>
<p>“Betapa banyak orang yang tuli tak mendengar?” katanya.</p>
<p>“Banyak juga” jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tersebut”, katanya.</p>
<p>“Bukankah Allah memberiku lisan yang dengannya aku bisa berdzikir dan menjelaskan keinginanku?” tanyanya.</p>
<p>“Iya benar” jawabku. “Lantas berapa banyak orang yang bisu tidak bisa bicara?” tanyanya.</p>
<p>“Wah, banyak itu” jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tsb” jawabnya.</p>
<p>“Bukankah Allah telah menjadikanku seorang muslim yang menyembah-Nya, mengharap pahala dari-Nya, dan bersabar atas musibahku?” tanyanya.</p>
<p>“Iya benar” jawabku. lalu katanya: “Padahal berapa banyak orang yang menyembah berhala, salib, dan sebagainya dan mereka juga sakit? Mereka merugi di dunia dan akhirat!!”</p>
<p>“Banyak sekali”, jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tersebut” katanya.</p>
<p>Pak tua terus menyebut kenikmatan Allah atas dirinya satu-persatu. Dan aku semakin takjub dengan  kekuatan imannya. Ia begitu mantap keyakinannya dan begitu rela terhadap pemberian Allah.</p>
<p>Betapa banyak pesakitan selain beliau, yang musibahnya tidak sampai seperempat dari musibah beliau. Mereka ada yang lumpuh, ada yang kehilangan penglihatan dan pendengaran, ada juga yang kehilangan organ tubuhnya. Tapi bila dibandingkan dengan orang ini, maka mereka tergolong ‘sehat’. Pun demikian, mereka meronta-ronta, mengeluh, dan menangis sejadi-jadinya. Mereka amat tidak sabar dan tipis keimanannya terhadap balasan Allah atas musibah yang menimpa mereka, padahal pahala tersebut demikian besar.</p>
<p>Aku pun menyelami pikiranku makin jauh, hingga akhirnya khayalanku terputus saat pak tua mengatakan:</p>
<p>“Hmmm, bolehkah kusebutkan permintaanku sekarang, maukah kamu mengabulkannya?”</p>
<p>“Iya. apa permintaanmu?” kataku.</p>
<p>Maka ia menundukkan kepalanya sejenak seraya menahan tangis. Ia berkata: “Tidak ada lagi yang tersisa dari keluargaku melainkan seorang bocah berumur 14 tahun. Dia lah yang memberiku makan dan minum, serta mewudhukan aku dan mengurusi segala keperluanku. Sejak tadi malam ia keluar mencari makanan untukku dan belum kembali hingga kini. Aku tak tahu apakah ia masih hidup dan diharapkan kepulangannya, ataukah telah tiada dan kulupakan saja. Dan kamu tahu sendiri keadaanku yang tua renta dan buta, yang tidak bisa mencarinya”.</p>
<p>Maka kutanya ciri-ciri anak tersebut dan ia menyebutkannya, maka aku berjanji akan mencarikan bocah tersebut untuknya. Aku pun meninggalkannya dan tak tahu bagaimana mencari bocah tersebut. Aku tak tahu harus memulai dari arah mana.</p>
<p>Namun tatkala aku berjalan dan bertanya-tanya kepada orang sekitar tentang si bocah, nampaklah olehku dari kejauhan sebuah bukit kecil yang tak jauh letaknya dari kemah si pak tua. Di atas bukit tersebut ada sekawanan burung gagak yang mengerumuni sesuatu. Maka segeralah terbetik di benakku bahwa burung tersebut tidak lah berkerumun kecuali pada bangkai, atau sisa makanan.</p>
<p>Aku pun mendaki bukit tersebut dan mendatangi kawanan gagak tadi hingga mereka berhamburan terbang. Tatkala kudatangi lokasi tersebut, ternyata si bocah telah tewas dengan badan terpotong-potong. Rupanya seekor serigala telah menerkamnya dan memakan sebagian dari tubuhnya, lalu meninggalkan sisanya untuk burung-burung.</p>
<p>Aku lebih sedih memikirkan nasib pak tua dari pada nasib si bocah. Aku pun turun dari bukit, dan melangkahkan kakiku dengan berat menahan kesedihan yang mendalam. Haruskah kutinggalkan pak Tua menghadapi nasibnya sendirian. Ataukah kudatangi dia dan kukabarkan nasib anaknya kepadanya?</p>
<p>Aku berjalan menujuk kemah pak Tua. Aku bingung harus mengatakan apa dan mulai dari mana? Lalu terlintaslah di benakku akan kisah Nabi Ayyub ‘alaihissalaam. Maka kutemui pak Tua itu dan ia masih dalam kondisi yang memprihatinkan seperti saat kutinggalkan. Kuucapkan salam kepadanya, dan pak Tua yang malang ini demikian rindu ingin melihat anaknya, ia mendahuluiku dengan bertanya: “Di mana si bocah?”</p>
<p>Namun kataku: “Jawablah terlebih dahulu… siapakah yang lebih dicintai Allah: engkau atau Ayyub ‘alaihissalaam?”.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Tentu Ayyub ‘alaihissalaam lebih dicintai Allah” jawabnya.</p>
<p>“Lantas siapakah di antara kalian yang lebih berat ujiannya?” tanyaku kembali.</p>
<p>“Tentu Ayyub…” jawabnya.</p>
<p>“Kalau begitu, berharaplah pahala dari Allah karena aku mendapati anakmu telah tewas di lereng gunung. Ia diterkam oleh serigala dan dikoyak-koyak tubuhnya” jawabku.</p>
<p>Maka pak Tua pun tersedak-sedak seraya berkata: “Laa ilaaha illallaaah…” dan aku berusaha meringankan musibahnya dan menyabarkannya. Namun sedakannya semakin keras hingga aku mulai menalqinkan kalimat syahadat kepadanya, hingga akhirnya ia meninggal dunia. Ia wafat di hadapanku, lalu kututupi jasadnya dengan selimut yang ada di bawahnya. Lalu aku keluar untuk mencari orang yang membantuku mengurus jenazahnya.</p>
<p>Maka kudapati ada tiga orang yang mengendarai unta mereka… nampaknya mereka adalah para musafir, maka kupanggil mereka dan mereka datang menghampiriku. Kukatakan: “Maukah kalian menerima pahala yang Allah giring kepada kalian? Di sini ada seorang muslim yang wafat dan dia tidak punya siapa-siapa yang mengurusinya. Maukah kalian menolongku memandikan, mengafani dan menguburkannya?”</p>
<p>“Iya..” jawab mereka.</p>
<p>Mereka pun masuk ke dalam kemah menghampiri mayat pak Tua untuk memindahkannya. Namun ketika mereka menyingkap wajahnya, mereka saling berteriak: “Abu Qilabah… Abu Qilabah…!!”. Ternyata Abu Qilabah adalah salah seorang ulama mereka, akan tetapi waktu silih berganti dan ia dirundung berbagai musibah hingga menyendiri dari masyarakat dalam sebuah kemah lusuh. Kami pun menunaikan kewajiban kami atasnya dan menguburkannya, kemudian aku kembali bersama mereka ke Madinah.</p>
<p>Malamnya aku bermimpi melihat Abu Qilabah dengan penampilan <a href="http://spektakuler.com/balasan-nan-indah/">indah</a>. Ia mengenakan gamis putih dengan badan yang sempurna. Ia berjalan-jalan di tanah yang hijau. Maka aku bertanya kepadanya:</p>
<p>“Hai Abu Qilabah… apa yang menjadikanmu seperti yang kulihat ini?”</p>
<p>Maka jawabnya: “Allah telah memasukkanku ke dalam Jannah, dan dikatakan kepadaku di dalamnya:</p>
<p>( سلام عليكم بما صبرتم فنعم عقبى الدار )</p>
<p>Salam sejahtera atasmu sebagai balasan atas kesabaranmu… maka (inilah Surga) sebaik-baik tempat kembali</p>
<p>[Kisah ini diriwayatkan oleh Al Imam Ibnu Hibban dalam kitabnya: “Ats Tsiqaat” dengan penyesuaian]</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Artikel www.muslim.or.id</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spektakuler.com/balasan-nan-indah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Alasan Wanita Sering Kelelahan &amp; Pelupa</title>
		<link>http://spektakuler.com/alasan-wanita-sering-kelelahan-pelupa/</link>
		<comments>http://spektakuler.com/alasan-wanita-sering-kelelahan-pelupa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Feb 2012 13:37:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spektakuler.com/?p=150</guid>
		<description><![CDATA[Banyak wanita mengeluhkan sering mengalami kelelahan berlebihan serta pelupa berat. Kurang istirahat, beberapa pekerjaan yang dilakukan dalam satu waktu (multitask) serta kehamilan kerap disebut sebagai penyebabnya. Tetapi, pakar menjelaskan ada penyebab lain yang membuat kedua hal ini lebih sering menimpa wanita. Hiperparatiroidisme merupakan kejadian kelenjar paratiroid lebih aktif sehingga dapat menyebabkan penyakit fisik maupun gejala [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak wanita mengeluhkan sering mengalami kelelahan berlebihan serta pelupa berat. Kurang istirahat, beberapa pekerjaan yang dilakukan dalam satu waktu (multitask) serta kehamilan kerap disebut sebagai penyebabnya.</p>
<p>Tetapi, pakar menjelaskan ada penyebab lain yang membuat kedua hal ini lebih sering menimpa wanita. Hiperparatiroidisme merupakan kejadian kelenjar paratiroid lebih aktif sehingga dapat menyebabkan penyakit fisik maupun gejala psikologis.<span id="more-150"></span></p>
<p>Hiperparatiroid adalah kelenjar sebesar bulir padi di bagian leher. Peran kelenjar ini mengatur kalsium dan fosfat dalam aliran darah dan melepaskan kalsium untuk dibawa dalam darah. Kalsium juga berperan penting untuk menyampaikan pesan di antara sel-sel saraf.</p>
<p>Kelebihan kalsium dalam memengaruhi kondisi fisik dan mental seseorang. Untuk masalah fisik, hiperparatiroid menimbulkan gejala batu ginjal, masalah sembelit, mual dan sakit perut. Sedangkan secara psikis dapat menyebabkan lupa, kebingungan hingga depresi pada kasus parah.</p>
<p>Umumnya, gejala para tiroid terjadi pada wanita usia menopause, rata-rata 65 tahun. Namun hal ini juga dapat terjadi pada usia lebih muda. Pada penderita lanjut usia, umumnya didiagnosis Alzheimer namun disertai hiperkalsemia atau kadar kalsium tinggi dalam darah.</p>
<p>Seperti dikutip dari Daily Mail, Dokter Kurzawinski mengingatkan, banyak penderita tak menyadari bahwa mereka sedang mengalami gejala hiperparatiroidisme. Dari studi diketahui, setengah wanita di Inggris pernah merasakan gejala ini, dari yang ringan hingga parah.</p>
<p>&#8220;Pelepasan kalsium terlalu banyak dari tulang dapat menyebabkan tulang keropos dan membentuk batu ginjal,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Dia menyarankan untuk meminum air putih yang cukup setiap hari agar ginjal lebih sehat. Minum suplemen vitamin D juga disarankan agar tubuh dapat menyerap kalsium di dalam tubuh. (umi)</p>
<p>sumber VIVAnews</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spektakuler.com/alasan-wanita-sering-kelelahan-pelupa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>15 Cara Membuat Suami Tetap Hangat</title>
		<link>http://spektakuler.com/15-cara-membuat-suami-tetap-hangat/</link>
		<comments>http://spektakuler.com/15-cara-membuat-suami-tetap-hangat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 04:08:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[membuat hangat suasana]]></category>
		<category><![CDATA[rumah tangga]]></category>
		<category><![CDATA[suami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spektakuler.com/?p=595</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang terjadi jika tidak ada lagi kehangatan antara suami istri? Keduanya mendapati hubungan mereka seakan diselimuti es, dan cinta yang bersemi diawal pernikahan berubah menjadi sesuatu yang dingin. Ungkapan “Rumahku adalah surgaku” menguap entah kemana, dan suasana rumah menjadi rutinitas yang menjemukan dan membosankan. Keadan semacam ini bisa menimpa siapa saja. Pernikahan layaknya kehidupan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://spektakuler.com/wp-content/uploads/2012/02/1-2-2012-2.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-596" title="1-2-2012 - 2" src="http://spektakuler.com/wp-content/uploads/2012/02/1-2-2012-2.jpg" alt="" width="354" height="260" /></a></p>
<p>Apa yang terjadi jika tidak ada lagi kehangatan antara suami istri? Keduanya mendapati hubungan mereka seakan diselimuti es, dan cinta yang bersemi diawal pernikahan berubah menjadi sesuatu yang dingin. Ungkapan “Rumahku adalah surgaku” menguap entah kemana, dan suasana rumah menjadi rutinitas yang menjemukan dan membosankan. <span id="more-595"></span></p>
<p>Keadan semacam ini bisa menimpa siapa saja. Pernikahan layaknya kehidupan memiliki dinamika dan romantika. Kadang suami istri mendapati rumah tangganya berjalan mulus, kerikil yang ada dapat dilewati bersama, dan keduanya meras bahagia dalam kebersamaan mereka. Disaat yang lain kadang muncul perselisihan, yang biasanya disertai dengan kemarahan, kekesalan atau bahkan menimbulkan “perang dingin” diantara keduanya. Disaat yang lain lagi terjadi dimana salah satu dari keduanya atau keduanya dilanda kebosanan dan kejenuhan dalam menjalani rutinitas kehidupan berumah tangga. Kesemua ini adalah manusiawi dan wajar, sepanjang tidak membuat hati keduanya saling jauh.</p>
<p>Adalah Muhammad SAW, seorang manusia pilihan yang menjadi nabi dan rasul untuk seluruh umat manusia dan memiliki kesempurnaan akhlak, tidak luput dari mengalami romantika dan dinamika dalam rumah tangganya. Maka kita membaca bahwa beliau disatu saat pernah berlomba lari dengan istrinya dalam suasana ceria dan bahagia. Disaat lain beliau pernah menghadapi kecemburuan istrinya, bahkan pernah pula gusar, sedih dan kecewa karena permintaan beberapa istrinya dalam masalah nafkah yang menyebabkan beliau sampai berkata,“Aku tidak akan mendatangi mereka selama satu bulan,” (HR Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Oleh karenanya jika anda berpikir bahwa pernikahan anda akan berjalan mulus, selalu diliputi kebahagiaan, tidak akan ada perselisihan, tidak akan ada kekesalan dan kemarahan. Maka sesungguhnya anda telah menjadi korban dari angan-angan yang tidak realistis. Dinamika dan romantika adalah sebuah ketetapan Allah SWTatau sunnatullah dalam pernikahan, tidak seorang pun dapat mengubahnya. Karena itu terimalah dinamika dan romantika (termasuk perselisihan) itu menjadi bagian dari rumah tangga anda, yang akan membuat rumah tangga anda menjadi penuh warna. Dari sini kita dapat mengerti bahwa rumah tangga yang bahagia dan harmonis itu bukanlah tanpa ada romantika perselisihan, tetapi yang dapat menyikapi dan menjadikan perselisihan yang ada sebagai bunga-bunga yang memberi warna pada pernikahan.</p>
<p>Selanjutnya untuk mengusahakan pernikahan yang harmonis dan bahagia itu, bisakah perempuan membuat suaminya tetap hangat terhadap dirinya kendati pernikahan itu telah berjalan puluhan atau belasan tahun? Tentu bisa, dengan sedikit usaha dan kesabaran, istri bisa membuat suaminya tetap hangat dan romantis terhadapnya sebagaimana di tahun pertama pernikahan. Tidak percaya?</p>
<p>Cobalah 15 saran berikut ini !</p>
<p>1. Katakan : “Aku mencintaimu”. Siapa bilang laki-laki tidak membutuhkan kata-kata cinta dari istrinya? Katakanlah terus menerus, karena kata-kata itu akan meresap ke dalam jiwanya, menghujam sanubari dan menumbuhkan keyakinan pada dirinya bahwa anda memang sungguh-sungguh mencintainya.</p>
<p>2. Ciumlah suami anda dengan ciuman cinta kasih setiap hari, ini akan menyenangkan dan akan membuatnya merindukan anda.</p>
<p>3. Genggam tanganya dengan lembut disaat-saat tertentu, hal kecil ini mampu menumbuhkan rasa cintanya pada anda.</p>
<p>4. Dengarkanlah dengan mengarahkan seluruh tubuh anda kepadanya ketika ia sedang berbicara. Pandanglah ia dengan lembut dan penuh kasih, untuk menunjukan bahwa anda sunguh-sungguh mendengarkannya.</p>
<p>5. Buatlah kejutan dengan memberikannya hadiah kecil yang bersifat pribadi, misalnya sapu tangan dan kaos kaki.</p>
<p>6. Ekspresikan cinta anda dengan kata-kata dan tubuh anda.</p>
<p>7. Khususkan waktu setiap hari walau hanya sepuluh menit untuk berdua saja dengannya.</p>
<p>8. Tampakanlah semampu anda keindahan penampilan anda ketika suami pulang kerja. Jadikanlah diri anda sebagai sesuatu yang layak dipandang, diperhatikan, dipeluk setelah sepuluh jam ia berada di luar.</p>
<p>9. Buatlah kejutan lembut disaat yang tidak terduga. Karena banyak istri melupakan bahwa pelukan dan ciuman lembut yang tiba-tiba (bukan rutinitas ketika akan berangkat bekerja) dapat menimbulkan perasaan khusus dan kasih sayang suami.</p>
<p>10. Berusahalah memenuhi rumah anda dengan senyum manis yang menyejukan seisi rumah. Silakan anda kesal atau marah, tapi jangan biarkan kemarahan dan kekesalan anda berlarut-larut, sehingga membuat suami anda merasa tidak nyaman berada di rumahnya sendiri.</p>
<p>11. Pahami dan kenali sifat serta karakter suami anda. Berusahalah mencari hal-hal yang membuatnya senang dan bahagia, sebaiknya jangan melakukan hal-hal yang membuat suami anda kesal.</p>
<p>12. Berikan pujian, jika memang suami anda berhak untuk mendapat pujian. Misalnya, “mas ganteng sekali hari ini,” atau ketika ia membantu anda membereskan rumah, “Aduh, suamiku memang lelaki yang paling rajin dan sholeh.”</p>
<p>13. Jangan ragu dan malu untuk menyatakan ketergantungan anda padanya, misalnya, “Alhamdulillah, aku punya suami seperti mas, jadi semua masalah bisa diatasi”.</p>
<p>14. Berusahalah untuk memaafkan jika ia berbuat kesalahan, ungkapkan kekesalan anda dengan wajar, selnjutnya tunjukan cinta dan pengertian anda.</p>
<p>15. Jangan sekali-kali anda lupa untuk mengucapkan terimakasih atas hal-hal kecil yang telah dilakukannya. Ingatlah Rasul kita yang mulia pernah bersabda, “Allah tidak akan memandang kepada perempuan yang tidak berterimakasih pada suaminya padahal ia butuh kepadanya” (HR Hakim) (www.baitijannati.wordpress.com)</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spektakuler.com/15-cara-membuat-suami-tetap-hangat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Janganlah Kau Gantikan Aku</title>
		<link>http://spektakuler.com/janganlah-kau-gantikan-aku/</link>
		<comments>http://spektakuler.com/janganlah-kau-gantikan-aku/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 04:05:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[krisis]]></category>
		<category><![CDATA[paceklik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spektakuler.com/?p=591</guid>
		<description><![CDATA[Khalifah Umar bin Khattab tertegun. Ia tidak pernah menyangka, di tengah-tengah paceklik yang menimpa, masih ada seorang perempuan tua yang luput dari perhatiannya. Suatu massa dalam kepemimpinan Umar, terjadilah Tahun Abu. Masyarakat Arab, mengalami masa paceklik yang berat. Hujan tidak lagi turun. Pepohonan mengering, tidak terhitung hewan yang mati mengenaskan. Tanah tempat berpijak hampir menghitam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://spektakuler.com/wp-content/uploads/2012/02/1-2-2012.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-592" title="1-2-2012" src="http://spektakuler.com/wp-content/uploads/2012/02/1-2-2012.jpg" alt="" width="346" height="260" /></a></p>
<p>Khalifah Umar bin Khattab tertegun. Ia tidak pernah menyangka, di tengah-tengah paceklik yang menimpa, masih ada seorang perempuan tua yang luput dari perhatiannya.</p>
<p>Suatu massa dalam kepemimpinan Umar, terjadilah Tahun Abu. Masyarakat Arab, mengalami masa paceklik yang berat. Hujan tidak lagi turun.<span id="more-591"></span> Pepohonan mengering, tidak terhitung hewan yang mati mengenaskan. Tanah tempat berpijak hampir menghitam seperti abu.</p>
<p>Putus asa mendera di mana-mana. Saat itu, Umar sang Pemimpin menampilkan kepribadian yang sebenar-benar pemimpin. Keadaan rakyat diperhatikannya saksama. Tanggung jawabnya dijalankan sepenuh hati. Setiap hari diinstruksikan menyembelih onta-onta potong dan disebarkan pengumuman kepada seluruh rakyat. Berbondong-bondong ribuan rakyat datang untuk makan. Semakin pedih hatinya. Saat itu, kecemasan menjadi kian tebal. Dengan hati gentar, lidah kelunya berujar, “Ya Allah, jangan sampai umat Muhammad menemui kehancuran di tangan ini”.</p>
<p>Umar menabukan memakan daging, samin dan susu untuk perutnya. Bukan apa-apa, ia khawatir makanan untuk rakyatnya berkurang. Ia, si Pemberani itu hanya menyantap minyak zaitun dengan sedikit roti. Akibatnya, perutnya terasa panas dan kepada pembantunya ia berkata “Kurangilah panas minyak itu dengan api”. Minyak pun dimasak, namun perutnya kian bertambah panas dan berbunyi nyaring. Jika sudah demikian, ditabuh perutnya dengan jemari seraya berkata, “Berkeronconglah sesukamu, dan kau akan tetap menjumpai minyak, sampai rakyatku bisa kenyang dan hidup dengan wajar”.</p>
<p>Hampir setiap malam Umar bin Khattab sering melakukan perjalanan diam-diam. Ditemani salah seorang sahabatnya, ia masuk keluar kampung. Ini ia lakukan untuk mengetahui kehdiupan rakyatnya. Umar khawatir apakah hak-hak mereka telah dibayarkan oleh para wakil dan kaki tangannya, ataukah belum.</p>
<p>Malam itu pun, bersama Aslam, Khalifah berada di suatu kampung terpencil. Kampung itu berada di tengah-tengah gurun yang sepi. Saat itu Khalifah terperanjat. Dari sebuah kemah yang sudah rombeng, terdengar seorang gadis kecil sedang menangis berkepanjangan. Umar bin khattab dan Aslam bergegas mendekati kemah itu, siapa tahu penghuninya mungkin membutuhkan pertolongan mendesak.</p>
<p>Setelah dekat, Umar melihat seorang perempuan tua tengah menjerangkan panci di atas tungku api. Asap mengepul-ngepul dari panci itu, sementara si Ibu terus saja mengaduk-aduk isi panci dengan sebuah sendok kayu yang panjang.</p>
<p>“Assalamu’alaikum,” Umar memberi salam.</p>
<p>Mendengar salam Umar, Ibu itu mendongakan kepala seraya menjawab salam Umar. Tapi setelah itu, ia kembali pada pekerjaannya mengaduk-aduk isi panci.</p>
<p>“Siapakah gerangan yang menangis di dalam itu?” tanya Umar.</p>
<p>Dengan sedikit tak peduli, Ibu itu menjawab, “Anakku…”</p>
<p>“Apakah ia sakit?”</p>
<p>“Tidak,” jawab si Ibu lagi. “Ia kelaparan.”</p>
<p>Umar dan Aslam tertegun. Mereka masih tetap duduk di depan kemah sampai lebih dari satu jam. Gadis kecil itu masih terus menangis. Sedangkan Ibunya terus mengaduk-aduk isi pancinya.</p>
<p>Umar tidak habis pikir, apa yang sedang dimasak oleh Ibu tua itu? Sudah begitu lama tapi belum juga matang. Karena tak tahan, akhirnya Umar berkata, “Apa yang sedang kaumasak, hai Ibu? Kenapa tidak matang-matang juga masakanmu itu?”</p>
<p>Ibu itu menoleh dan menjawab, “Hmmm, kaulihatlah sendiri!”</p>
<p>Umar dan Aslam segera menjenguk ke dalam panci tersebut. Alangkah kagetnya ketika mereka melihat apa yang ada di dalam panci tersebut. Sambil masih tebelalak tak percaya, Umar berteriak, “Apakah kau memasak batu?”</p>
<p>Perempuan itu menjawab dengan menganggukkan kepala.</p>
<p>“Buat apa?”</p>
<p>Dengan suara lirih, perempuan itu kembali bersuara menjawab pertanyaan Umar, “Aku memasak batu-batu ini untuk menghibur anakku. Inilah kejahatan Khalifah Umar bin Khattab. Ia tidak mau melihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi belum. Lihatlah aku. Aku seorang janda. Sejak dari pagi tadi, aku dan anakku belum makan apa-apa. Jadi anakku pun kusuruh berpuasa, dengan harapan ketika waktu berbuka kami mendapat rejeki. Namun ternyata tidak. Sesudah magrib tiba, makanan belum ada juga. Anakku terpaksa tidur dengan perut yang kosong. Aku mengumpulkan batu-batu kecil, memasukkannya ke dalam panci dan kuisi air. Lalu batu-batu itu kumasak untuk membohongi anakku, dengan harapan ia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. Mungkin karena lapar, sebentar-sebentar ia bangun dan menangis minta makan.”</p>
<p>Ibu itu diam sejenak. Kemudian ia melanjutkan, “Namun apa dayaku? Sungguh Umar bin Khattab tidak pantas jadi pemimpin. Ia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya.”</p>
<p>Mendengar penuturan si Ibu seperti itu, Aslam akan menegur perempuan itu. Namun Umar sempat mencegah. Dengan air mata berlinang ia bangkit dan mengajak Aslam cepat-cepat pulang ke Madinah. Tanpa istirahat lagi, Umar segera memikul gandum di punggungnya, untuk diberikan kepada janda tua yang sengsara itu.</p>
<p>Karena Umar bin Khattab terlihat keletihan, Aslam berkata, “Wahai Amirul Mukminin, biarlah aku saya yang memikul karung itu…”</p>
<p>Dengan wajah merah padam, Umar menjawab sebat, “Aslam, jangan jerumuskan aku ke dalam Neraka. Engkau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kaukira engkau akan mau memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan kelak?”</p>
<p>Aslam tertunduk. Ia masih berdiri mematung, ketika tersuruk-suruk Khalifah Umar bin Khattab berjuang memikul karung gandum itu. Angin berhembus. Musim paceklik terus saja hinggap di tanah Arab.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>(Peri Hidup Nabi dan Para Sahabat; Saad Saefullah) dikutip dari Eramuslim.com</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spektakuler.com/janganlah-kau-gantikan-aku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Doa dan Optimisme</title>
		<link>http://spektakuler.com/doa-dan-optimisme/</link>
		<comments>http://spektakuler.com/doa-dan-optimisme/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jan 2012 14:23:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[optimisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spektakuler.com/?p=586</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ustaz Toto Tasmara Ketika semua jalan terasa buntu. Pandangan ke masa depan terasa suram, di mendung awan gelap tanpa harapan. Hidup didera berbagai persoalan yang mengharu biru, maka seorang hamba yang merindu cinta Ilahi, bersegera mengadukan seluruh persoalannya kepada Dia yang Maha Penolong. Dengan sebongkah hati penuh iman dan optimisme, ia berhusnuzan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://spektakuler.com/wp-content/uploads/2012/01/29-jan-2012-2.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-588" title="29 jan 2012, 2" src="http://spektakuler.com/wp-content/uploads/2012/01/29-jan-2012-2.jpg" alt="" width="390" height="260" /></a></p>
<p>Sumber: REPUBLIKA.CO.ID,</p>
<p>Oleh: Ustaz Toto Tasmara</p>
<p>Ketika semua jalan terasa buntu. Pandangan ke masa depan terasa suram, di mendung awan gelap tanpa harapan. Hidup didera berbagai persoalan yang mengharu biru, maka seorang hamba yang merindu cinta Ilahi, bersegera mengadukan seluruh persoalannya kepada Dia yang Maha Penolong.<span id="more-586"></span> Dengan sebongkah hati penuh iman dan optimisme, ia berhusnuzan (berprasangka baik) kepada Allah, bahwa hanya dengan rida dan iradah-Nya, segala awan gelap kehidupan mampu disingkirkan. Tidak ada yang mustahil bagi Allah, karena bagi-Nya cukuplah berucap, ”Kun faya kun, maka jadilah.”</p>
<p>Dalam melafalkan doanya, ia pun memintal sejuta sesal seraya bertobat membersihkan diri dari dosa. Karena, ia sadar bahwa dosa adalah kabut penghalang untuk memandang wajah Ilahi. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada yang dapat menolak ketentuan takdir (qadha) kecuali doa. Dan, tidaklah ada yang menambah umur kecuali berbuat kebajikan. Dan, seseorang diharamkan rezekinya, karena perbuatan dosanya.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Hibban).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ketika ia berdoa tumbuh keyakinan bahwa cepat atau lambat permohonannya akan dikabulkan Allah. Dia tidak akan menyalahkan siapa pun bila doanya belum terkabul, bahkan sebaliknya, ia akan terus melakukan introspeksi dan melakukan islah (perbaikan diri), melakukan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) dan memperbanyak berbuat kebajikan (fastabiqul khairat). Karena, ia sadar setiap doa ada syarat-syaratnya. Tidaklah seseorang disebut sebagai orang baik, kecuali ia memang selalu berbuat baik. Tidaklah seseorang disebut beriman, kecuali ia penuhi kriteria untuk diakui sebagai seorang yang beriman. Demikian juga dengan doa. Tidaklah doa dikabulkan kecuali ia dipenuhi kehendak Ilahi dengan rasa penuh cinta.</p>
<p>Rasulullah SAW telah memberikan tuntunan bahwa salah satu syarat berdoa adalah sikap optimistis dan yakin bahwa apa yang ia harapkan akan dikabulkan. Rasulullah bersabda, “Jika kamu berdoa kepada Allah Azza wa Jalla, wahai manusia mohonlah kehadirat-Nya dengan penuh keyakinan bahwa doamu akan dikabulkan, karena Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR Ahmad).</p>
<p>Doa sesungguhnya akan melahirkan kekuatan batin yang luar biasa. Karena, sikap percaya diri dan optimisme merupakan pedang paling tajam dalam menebas segala ilalang semak belukar yang mengotori perjalanan.</p>
<p>Orang yang berdoa itu bersikap optimistis penuh prasangka baik (husnuzhan) kepada Allah SWT. Orang optimistis mampu melihat kesempatan di antara begitu banyak kesempitan. Sedangkan orang pesimistis melihat begitu banyak kesempitan di antara semua kesempatan.</p>
<p>Optimisme adalah sebuah keyakinan yang akan membawa pada pencapaian hasil. Tidak ada yang bisa diperbuat tanpa harapan dan percaya diri. Salah satu sifat seorang mukmin adalah sikapnya yang optimistis, tidak ada rasa duka cita atau merasa cemas dalam memandang masa depan. “Dan, janganlah kamu merasa lemah dan jangan bersedih hati, karena kamulah orang-orang yang paling unggul, jika kamu beriman.” (QS Ali Imran [3]: 139). Wallahu a’lam bish shawab.</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spektakuler.com/doa-dan-optimisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>25 Tips Agar Shalat Khusyu</title>
		<link>http://spektakuler.com/25-tips-agar-shalat-khusyu/</link>
		<comments>http://spektakuler.com/25-tips-agar-shalat-khusyu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jan 2012 14:19:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[khusuk]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat khusuk]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<category><![CDATA[tips shalat khusuk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spektakuler.com/?p=580</guid>
		<description><![CDATA[Menghadirkan khusyu’ dalam sholat dalam dilakukan melalui dua cara. Pertama: mengupayakan amalan-amalan yang merangsang kekhusyu’an dan kedua: menghilangkan hal-hal yang merusak kekhusyu’an. Adapun amalan-amalan yang mengantarkan kepada kekhusyu’an adalah sbb: 1). Persiapkan diri untuk sholat. Itu dimulai dengan mendengarkan adzan dan mengikutinya, berdoa adzan, memperbaiki wudlu, berdoa setalah wudlu, melakukan siwak sebelum sholat, mempesiapkan baju [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://spektakuler.com/wp-content/uploads/2012/01/29-jan-2012.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-583" title="29 jan 2012" src="http://spektakuler.com/wp-content/uploads/2012/01/29-jan-2012.jpg" alt="" width="346" height="260" /></a></p>
<p>Menghadirkan khusyu’ dalam sholat dalam dilakukan melalui dua cara. Pertama: mengupayakan amalan-amalan yang merangsang kekhusyu’an dan kedua: menghilangkan hal-hal yang merusak kekhusyu’an.</p>
<p>Adapun amalan-amalan yang mengantarkan kepada kekhusyu’an adalah sbb:<span id="more-580"></span></p>
<p>1). Persiapkan diri untuk sholat. Itu dimulai dengan mendengarkan adzan dan mengikutinya, berdoa adzan, memperbaiki wudlu, berdoa setalah wudlu, melakukan siwak sebelum sholat, mempesiapkan baju sholat, tempat sholat dan menunggu waktu sholat. Bukan bergegas sholat ketika waktu hampir lewat.</p>
<p>2). Thoma’ninah: yaitu berhenti sejenak pada setiap rukun-rukun sholat. Dalam hadist diriwayatkan bahwa Rasulullah s.a.w. ketika sholat, beliau melakukan thma’ninah hingga semua anggota badan beliau kembali pada tempatnya. (H.R. Abu Dawud dll.) Dalam hadist lain Rasulullah s.a.w. bersabda:”Seburuk-buruk pencuri adalah pencuri sholat. Bagaimana itu wahai Rasulullah, tanya sahabat. “Mereka yang tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya. (H.R. Ahmad dan Hakim: sahih). Seseorang tidak akan bisa khusyu’ tanpa thoma’ninah ini karena cepatnya pergerakan sholat telah menghilangkan kekhusyu’an dan konsentrasi hati.</p>
<p>3). Ingat kematian saat sholat. Rasulullah s.a.w. pernah bersabda:”Ingatlah mati saat kamu sholat, sesungguhnya seseorang yang ingat mati saat sholat maka ia akan memperbaiki sholatnya, dan sholatlah seperti sholatnya orang yang mengira itu sholatnya yang terakhir” (Dailami: sahih). Rasul juga pernah berpesan kepada Abu Ayub r.a. “Sholatlah seperti sholatnya orang yang pamitan” (Ahmad: sahih).</p>
<p>4). Tadabbur (menghayati) ayat-ayat Quran yang dibaca saat sholat, begitu juga dzikir-dzikir dan bacaan sholat lainnya lainnya serta menyerapkannya dalam diri mushalli.</p>
<p>كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آَيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ (29)</p>
<p>Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. (Shad:29).</p>
<p>Dari Hudzaifah r.a. :Aku sholat di belakang Rasulullah s.a.w., satu malam. Beliau membaca dengan bebas. Ketika melewati ayat di dalamnya ada tasbih, beliau bertasbih, ketika melewati ayat permintaan beliau meminta dan ketika melewati ayat minta perlindungan, beliau pun meminta perlindungan” (Muslim).</p>
<p>Tadabbur dan tafakkur terhadap ayat-ayat Allah merupakan pengantar kekhusyu’an. Begitu juga menangis saat mendengar atau membaca ayat-ayat Allah. Allah berfirman:</p>
<p>وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا</p>
<p>Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.(Isra’:109).</p>
<p>Atho’ pernah bertanya kepada Aisyah r.a.: ceritakan kepadaku apa yang paling kau kagumi dari Rasulullah, lalu Aisyah menangis. Suatu malam Rasulullah s.a.w. berdiri untuk sholat, beliau berkata: Wahai Aisyah biarkan aku menyembah Tuhanku. Sesungguhnya aku senang bersamamu dan aku senang menyenangkanmu”. Lalu beliau pun bangun dan sholat, lalu beliau sholat sambil menangis sehingga lantai kamarku basah karena air mata beliau. Lalu berkumandanglah adzan Bilal untuk subuh, ketika Bilal melihat mata Rasulullah basah karena menangis, Bilal pun bertanya:”Wahai Rasulullah, untuk apa engkau menangis padahal Allah telah mengampunimu dosamu yang lalu dan yang akan datang? Rasul menjawab: Wahai Bilal aku lebih suka untuk menjadi hamba yang banyak bersyukur. Malam ini diturunkan kepadaku ayat yang ruglilah orang yang membacanya dan tidak menghayatinya, yaitu ayat Ali Imran 190-194. (Ibnu Hibban:sahih).</p>
<p>5). Membaca ayat satu-satu. Ini juga mengantarkan kepada khusyu’ karena mengantarkan kepada pamahaman dan penghayatan. Umi Salamah berkata bahwa Rasulullah membaca fatihah dalam sholat dengan basmalah, lalu berhenti lalu membaca hamdalah lalu berhenti lalu membaca arrohmaanirrohiiim dan seterusnya. (Abu Dawud: sahih).</p>
<p>6). Memperindah bacaan Quran dan tartil dapat mengantarkan kepada kekhusyu’an. Allah berfirman:</p>
<p>يَـٰٓأَيُّہَا ٱلۡمُزَّمِّلُ قُمِ ٱلَّيۡلَ إِلَّا قَلِيلاً۬ نِّصۡفَهُ ۥۤ أَوِ ٱنقُصۡ مِنۡهُ قَلِيلاً أَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلاً</p>
<p>Hai orang yang berselimut [Muhammad], (1) bangunlah [untuk sembahyang] di malam hari [1] kecuali sedikit [daripadanya], (2) [yaitu] seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, (3) atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan. (Muzammil 1-4)</p>
<p>Rasulullah s.a.w. berpesan:”Perindahlah al-Qur’an dengan suaramu yang merdu, karena suara yang indah akan memperindah al-Quran” (Hakim:sahih). Dalam hadist lain beliau bersabda:”Sesungguhnya seindah-indah suara orang membaca Quran, adalah kalau ia membaca maka orang-orang yang mendengarnya akan takut kapada Allah. (Ibnu Majah: sahih).</p>
<p>7). Beranggapan bahwa saat sholat ia sedang menghadap kepada Allah. Dalam sebuah hadist Rasulullah s.a.w. bersabda:”Sesungguhnya kalian apabila sholat maka sesungguhnya ia sedang bermunajat (bertemu) dengan Tuhannya, maka hendaknya ia mengerti bagaimana bermunajat dengan Tuhan. Hakim: sahih).</p>
<p>8). Memperhatikan pembatas depan sholat. Sebaiknya ketika sholat menghadap pembatas depan, misalnya dinding atau pembatas yang polos. Tujuannya adalah agar pandangan mata kita tidak terganggu oleh obyek-obyek visual yang mengganggu konsentrasi kita. Rasulullah s.a.w. bersabda” Hendaklah kalian ketika sholat menaruh pembatas di depannya agar syetan tidak memutuskan sholatnya” (Abu Dawud: sahih). Sebaiknya pembatas tersebut berjarak tiga jengkal dari tempatnya berdiri dan sejengkal dari tempat sujudnya. (Fathul Bari).</p>
<p>9). Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di atas dada. Rasulullah s.a.w. bersabda: Kami para nabi diperintahkan agar dalam sholat meletakkan tangan kanan di atas atas tangan kiri (Thabrani:sahih). Imam Ahmad menjelaskan bahwa tujuannya adalah agar kita menundukkan diri di depan Allah dengan khusyu’. Ibnu Hajar mengatakan bahwa sikap seperti itu adalah sikap seorang yang meminta dengan merendahkan diri dan sikap seperti itu lebih mengantarkan kepada kekhusyu’an.</p>
<p>10). Mengarahkan pandangan mata pada tempat sujud. Dai Aisyah r.a. Rasulullah s.a.w. ketika sholat beliau menundukkan kepalanya dan pandangannya tertuju ke tempat sujud. (Hakim:sahih). Begitu juga ketika beliau memasuki Ka’bah beliau tidak memalingkan pandangannya dari tempat sujudnya hingga keluar dari Ka’bah”. (Hakim: sahih).</p>
<p>Bagaimana dengan pendapat sebagian orang yang melakukan sholat dengan memejamkan mata dengan dalih itu bisa mengantarkan kepada kekhsyu’an. Sesungguhnya itu bertentangan dengan contoh yang diberikan Rasulullah s.a.w. Beliau diriwayatkan tidak pernah sholat dengan memejamkan mata. Namun demikian para ulama beda pendapat mengenai masalah itu. Imam Ahmad mengatakan memejamkah mata saat sholat hukumnya makruh karena itu kebiasaan orang Yahudi. Sebagian ulama mengatakan tidak makruh asalnya demi tujuan baik, misalnya kalau tidak memejamkan mata terganggu oleh obyek-obyek visual yang ada di depannya atau di sekitar tempat sholat, maka memejamkan mata pada kondisi seperti itu dianjurkan.</p>
<p>11). Sebagian ulama melihat bahwa meragamkan bacaan sholat dapat mengantarkan kepada kekhusyu’an karena menciptakan suasana baru dalam melaksanakan sholat. Misalnya redaksi bacaan doa iftitah, ruku’, sujud, I’tidal, duduk antara dua sujud dan tashahhud ada beberapa riwayat sahih yang berbeda-beda. Membacanya dengan redaksi yang berbeda-beda dapat mempersegar suasana sholat dan mengantarkan kepada kekhusyu’an. Begitu juga bacaan-bacaan surat setelah fatihah dapat dilakukan dengan variasi ayat yang berbeda-beda.</p>
<p>12). Disunnahkan membaca ta’awwudz (أغوذ بالله من الشيطان الرجيم) ketika merasakan ada gangguan konsentrasi dalam sholat. Konon ketika seorang hamba hendak melaksanakan sholat, syetan menurunkan pasukannya yang disebut Khanzab untuk mengganggu orang sholat. Abi ‘Ash r.a. berkata kepada Rasulullah, Wahai Rasulullah syetan telah mengganggu sholatnya dan membolak balikkan bacaannya, Rasulullah bersabda: Itu syetan bernama Khanzab kalau kamu merasakannya maka bacalah ta’wudz lalu tiuplah ke kiri tiga kali”. Iapun melakukannya dan syetan tidak lagi mengganggunya. (Muslim).</p>
<p>Rasulullah juga mengingatkan: Kalau kalian sholat maka datanglah syetan mengganggu kalian, sehingga kalian lupa hitungan rakaatnya. Kalau kalian merasakannya maka sujudlah dua kali ketika ia duduk (Bukhari).</p>
<p>Rasulullah juga mengingatkan bahwa Syetan datang kepada kalian ketika sholat lalu membuka tempat duduk kalian, lalu ia merekayasa agar dia ragu apa kentut apa tidak, kalau kalian merasakan itu janganlah membatalkan sholat hingga dengar suara atau mencium bau (Thabrani: sahih). Bahkan konon syetan juga menganggu orang yang sholat dengan isu-isu kebaikan seperti masalah dakwah, masalah sunnah, masalah keilmuan dan politik agar sholatnya tidak lagi terfokus.</p>
<p>13). Bacalah cerita orang solih terdahulu bagaimana mereka berkhusyu’ dalam sholatnya. Ali r.a. ketika hendak sholat maka mukanya berubah, lalu ia ditanyai tentang itu, beliau menjawab: datang waktu ketika amanah ditawarkan kepada langit, bumi dan gunung-gunung tapi mereka menolak tapi aku kini membawanya. Konon mereka ketita sholat memerah wajahnya karena takut akan menghadap Allah. Salah seorang sahabat diceritakan terkena panah saat berperang, lalu ia minta agar dicabut saat ia sholat karena saat itu ia lupa semuanya dan hanya ingat Allah.</p>
<p>14). Berdoa dalam sholat, khususnya saat sujud. Rasulullah s.a.w. bersabda:”Kondisi paling antara hamba dan Tuhannya adalah saat sujud, maka perbanyaklah doa” (Muslim).</p>
<p>Dzikir setelah sholat. Setelah melaksanakan sholatnya hendaknya seorang hamba melakukan dzikir selesai sholat untuk memperkuat dan menyempurnakan sholatnya. Tentu saja tidak hanya dzikir dalam lisan tapi juga diresapi makna dan kandungannya.</p>
<p>Adapun perkara-perkara yang mengganggu kekhusyu’an adalah sbb:</p>
<p>1. Membersihkan tempat sholat dari hal-hal yang mengganggu konsentrasi seperti gambar-gambar dan ornamen yang menarik perhatian orang sholat. Aisyah r.a. pernah mempunyai kelambu di rumahnya berwarna-warni, lalu Rasulullah memintanya agar menyingkirkan itu karena itu mengganggu sholat beliau. (Bukhari).</p>
<p>Maka hendaknya melakukan sholat di tempat yang jauh dari kebisingan dan banyak orang lalu lalang, tempat orang ngobrol, apalagi tempat hiburan dan bersenang-senang karena itu akan mengganggu kekhusyu’an sholat. Begitu juga agar lokasi sholat tidak terlalu panas atau terlalu dingin. Rasulullah s.a.w. memerintahkan agar para sahabat melakukan sholat dhuhur saat cuaca agak dingin.</p>
<p>2. Memakai pakaian yang polos dan tidak banyak warna. Karena itu akan menarik pandangan mushalli dan mengganggu konsentrasinya dalam sholat. Rasulullah pernah sholat dan terganggu dengan kelambu Aisyah yang berwarna-warni lalu beliau meminta untuk menyingkirkannya. (Bukhari dll.).</p>
<p>3. Hindari solat di waktu makan. Rasulullah s.a.w. bersabda”Tidak baik sholat di hadapan makanan” (Muslim). Riwayat lain mengatakan “Ketika maka malam sudah siap dan datang waktu sholat, maka dahulukan makan malam” (Bukhari).</p>
<p>4. Hindari menahan buang air besar, kecil dan angin. Rasulullah s.a.w. melarang sholat sambil menahan kencing (Ibnu Majah:sahih). Riwayat lain mengatakan bahwa Rasululllah s.a.w. bersabda kalau kalian akan sholat dan ingin ke wc maka pergilah ke wc dulu (Abu Dawud:sahih).</p>
<p>5. Hindari sholat dalam keadaan ngantuk berat. Rasulullah s.a.w. bersabda “Kalau kalian sholat dan ngantuk maka tidurlah hingga ia mengerti apa yang dikatakan” (Bukhari). Riwayat lain dengan tambahan: ditakutkan ketika kalian ngantuk dan melakukan sholat maka ia tidak sadar maunya meminta ampunan Allah tapi malah mengumpat dirinya. (Bukhari)</p>
<p>6.Hindari sholat di tempat yang kurang rata atau kuarng bersih karena itu akan menganggu konsentrasi saat sujud. Rasulullah s.a.w. bersabda “Janganlah kau membersihkan tempat sujudmu (dari kerikil) saat sholat, kalau terpaksa melakukannya maka itu cukup sekali (Abu Dawud:sahih).</p>
<p>7. Jangan membaca terlalu keras sehingga mengganggu orang sholat di samping kita. Rasulullah s.a.w. bersabda “Ingatlah bahwa kalian semua menghadap Allah, janganlah saling mengganggu, jangan membaca lebih keras dari saudaranya dalam sholat” (Abu Dawud: sahih).</p>
<p>8. Jangan tengak-tengok saat sholat. Rasulullah s.a.w. mengingatkan bahwa tengak-tengok dalam sholat adalah gangguan syetan. (Bukhari). Dalam hadist lain dikatakan “Allah senantiasa melihat hambanya saat sholat selama ia tidak menengok, kalau menengok maka Allah meninggalkannya” (Abu Dawud: sahih).</p>
<p>9. Jangan melihat ke arah atas. Rasulullah s.a.w. pernah bersabda “Ada orang-orang sholat sambil menghadap ke atas, mudah-mudahan matanya tidak kembali” (Ahmad:sahih).</p>
<p>10. Menahan mulut ketika ingin menguap. Sabda Rasulullah s.a.w. Ketika kalian menguap saat sholat, maka tahanlah sekuatnya karena syetan akan masuk ke mulut kalian” (Muslim).</p>
<p>11. Jangan sholat seperti tingkah laku binatang. Dalam sebuah hadist Rasulullah s.a.w. melarang sholat seperti patukan gagak, duduknya harimau dan menjalankan ibadah di tempat yang satu seperti onta (Ahmad: sahih).</p>
<p>Akhirnya, khusyu’ ini berat tapi dapat kita jalankan melalui latihan dan membiasakan diri. Salah satu upaya agar kita dapat melakukan khusyu’ dengan mudah adalah dengan memperbanyak doa:</p>
<p>اللَّهُمَّ طَهِّرْنِي بِالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَالْمَاءِ الْبَارِدِ ، اللَّهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِي مِنَ الْخَطَايَا كَمَا طَهَّرْتَ الثَّوْبَ الأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ ، وَبَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ ذُنُوبِي كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَنَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ، وَدُعَاءٍ لاَ يُسْمَعُ ، وَعِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ هُؤُلاَءِ الأَرْبَعِ ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِيشَةً نَقِيَّةً وَمَيْتَةً سَوِيَّةً وَمَرَدًّا غَيْرَ مُخْزٍى.</p>
<p>Mudah-mudahan bermanfaat.</p>
<p>Disusun Ustadz Muhammad Niam</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber ceritateladan.com</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spektakuler.com/25-tips-agar-shalat-khusyu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Semangat Para Ulama Dalam Beribadah</title>
		<link>http://spektakuler.com/semangat-para-ulama-dalam-beribadah/</link>
		<comments>http://spektakuler.com/semangat-para-ulama-dalam-beribadah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2012 13:42:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spektakuler.com/?p=572</guid>
		<description><![CDATA[Jika kita melihat contoh orang-orang terdahulu, contoh para ulama salaf, barangkali kita akan tercengang. Bagaimana tidak? Sungguh menakjubkan amal yang mereka lakukan. Semangat mereka amat luar biasa. Kontinuitas mereka dalam beramal selalu terjaga. Di antara buktinya adalah kisah-kisah berikut ini. * Waki’ bin Al Jarroh rahimahullah berkata, “Al A’masy selama kurang lebih 70 tahun tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://spektakuler.com/wp-content/uploads/2012/01/25-01-2012-2.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-573" title="25-01-2012 -2" src="http://spektakuler.com/wp-content/uploads/2012/01/25-01-2012-2.jpg" alt="" width="346" height="260" /></a></p>
<p>Jika kita melihat contoh orang-orang terdahulu, contoh para ulama salaf, barangkali kita akan tercengang. Bagaimana tidak? Sungguh menakjubkan amal yang mereka lakukan. Semangat mereka amat luar biasa. Kontinuitas mereka dalam beramal selalu terjaga. Di antara buktinya adalah kisah-kisah berikut ini. <span id="more-572"></span></p>
<p>* Waki’ bin Al Jarroh rahimahullah berkata, “Al A’masy selama kurang lebih 70 tahun tidak pernah luput dari takbiratul ihrom.”</p>
<p>Masya Allah, lalu di manakah kita? Tatkala mendengar adzan saja tidak dipedulikan. Apalagi seringnya telat dan bahkan sering menempati shaf terbelakang.</p>
<p>* Al Qodhi Taqiyuddin Sulaiman bin Hamzah Al Maqdisi rahimahullah berkata, “Aku tidaklah pernah shalat fardhu sendirian kecuali dua kali. Dan ketika aku shalat sendirian, aku merasa seakan-akan aku tidak shalat.”</p>
<p>Lihatlah penyesalan Sulaiman bin Hamzah di atas. Ia teramat sedih luput dari shalat jama’ah. Berbeda dengan kita yang tidak sesedih itu. Hati terasa tenang-tenang saja (tidak ada rasa menyesal) ketika shalat di rumah. Kalau kita teringat akan pahala shalat jama’ah yang 27 derajat lebih mulia dari shalat sendirian, tentu kita tidak akan meninggalkannya.</p>
<p>* Muhammad bin Sama’ah rahimahullah berkata, “Selama 40 tahun aku tidak pernah luput dari takbiratul ihram (bersama imam) walaupun sehari saja kecuali ketika ibuku meninggal dunia.”</p>
<p>Lihatlah Muhammad bin Sama’ah karena ada udzur saja beliau tinggalkan shalat jama’ah. Tidak seperti kita yang selalu kemukakan beribu alasan, sibuklah, ada tugaslah, dan alasan lainnya yang sebenarnya bukanlah udzur yang dibenarkan.</p>
<p>* Dalam biografi Sa’id bin Al Musayyib rahimahullah di kitab Tahdzib At Tahdzib disebutkan, “Selama 40 tahun tidaklah dikumandangkan adzan melainkan Sa’id telah berada di masjid.”</p>
<p>Lihatlah semangat yang luar biasa, berusaha tepat waktu ketika shalat, berusaha ontime sebelum adzan. Tidak seperti kita yang masih asyik-asyikkan di depan TV, yang masih asyik-asyikan bercanda dengan teman, yang lebih senang bersama dengan istri dan anak-anak. Wallahul musta’an.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>* Asy Sya’bi rahimahullah berkata, “Tidaklah adzan dikumandangkan semenjak aku masuk Islam melainkan aku telah berwudhu saat itu.”</p>
<p>Lihatlah bagaimana semangat Asy Sya’bi yang selalu berusaha pula shalat on time, bahkan sudah berwudhu sebelum waktu adzan.</p>
<p>Ulama belakangan pun ada yang punya kisah demikian. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah terkenal dengan semangat beliau dalam ibadah di samping beliau sudah ma’ruf dengan perbendaharaan ilmu diin yang amat luas. Beliau adalah orang yang rutin menjaga shalat sunnah rawatib, rajin menjaga dzikir-dzikir khusus dan rutin pula menjaga shalat malam (tahajjud).</p>
<p>* Anak Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz yang bernama Ahmad berkata, “Aku sudah lama mengetahui kalau ayahku selalu bangun tidur satu jam sebelum shalat shubuh dan ketika itu beliau shalat (tahajjud) sebanyak 11 raka’at (sudah termasuk witir, pen).”</p>
<p>Dari sini maka sudah sepantasnya orang yang telah mengetahui suatu amalan agar semangat untuk mengamalkannya. Menuntut ilmu agama bukanlah sekedar tambah wawasan dan memperluas cakrawala. Hendaklah orang yang sudah mendalami ilmu agama berusaha lebih giat lagi dalam ibadah karena mereka adalah qudwah (contoh) bagi yang lain. Jika orang yang menuntut ilmu agama telah semangat dalam kebaikan seperti ini, maka yang lain pun akan ikut termotivasi. Namun jika mereka-mereka saja malas, maka yang lain pun bisa terpengaruh kebiasaan buruk tersebut. Jadilah qudwah, jadilah teladan, barengkanlah ilmu dan amal. Tetap perdalam dan rajin menuntut ilmu diin disertai semangat mengamalkan ilmu tersebut. Ingat pula bahwa sebaik-baik amalan adalah yang kontinu walaupun sedikit.</p>
<p>Wallahu waliyyut taufiq.</p>
<p>Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber: http://rumaysho.com/belajar-islam/teladan/3403-semangat-para-ulama-dalam-ibadah.html</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spektakuler.com/semangat-para-ulama-dalam-beribadah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teladan Semangat Dalam Berderma</title>
		<link>http://spektakuler.com/teladan-semangat-dalam-berderma/</link>
		<comments>http://spektakuler.com/teladan-semangat-dalam-berderma/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2012 13:40:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[derma]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[shadaqoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spektakuler.com/?p=568</guid>
		<description><![CDATA[Teladan terbaik bagi kita adalah dari Rasul kita -Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Kita akan saksikan bagaimana Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi contoh bagaimana semangat beliau dalam berderma, lebih-lebih lagi ketika di bulan penuh berkah, bulan Ramadhan. Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling baik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://spektakuler.com/wp-content/uploads/2012/01/25-01-2012.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-569" title="25-01-2012" src="http://spektakuler.com/wp-content/uploads/2012/01/25-01-2012.jpg" alt="" width="346" height="260" /></a></p>
<p>Teladan terbaik bagi kita adalah dari Rasul kita -Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Kita akan saksikan bagaimana Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi contoh bagaimana semangat beliau dalam berderma, lebih-lebih lagi ketika di bulan penuh berkah, bulan Ramadhan. <span id="more-568"></span></p>
<p>Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling baik dan paling semangat serta yang lebih semangat untuk berderma.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Dari Shofwan bin Umayyah, ia berkata, “Sungguh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberiku sesuatu yang belum pernah kuperoleh. Padahal awalnya beliau adalah orang yang paling kubenci. Beliau terus berderma untukku sehingga beliau lah saat ini yang paling kucintai.” (HR. Ibnu Hibban, shahih).</p>
<p>Ibnu Syihab berkata bahwa pada saat perang Hunain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan Shofwan 100 hewan ternak, kemudian beliau memberinya 100 dan menambah 100 lagi. Juga disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi Shofwan unta dan hewan ternak sepenuh lembah, lantas Shofwan berkata, “Aku bersaksi bahwa tidak ada orang yang sebaik ini melainkan dia adalah seorang Nabi.”</p>
<p>Dari Jabir, ia berkata, “Tidaklah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam diminta sesuatu lalu beliau menjawab, “Tidak.” Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan pada Jabir, “Seandainya datang padaku harta, melainkan aku akan memberimu seukuran dua telapak tangan penuh seperti ini (beliau menyebutkan tiga kali). Beliau berkata, “Yaitu dengan dua telapak tangan semuanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Dalam hadits riwayat Muslim diperlihatkan bagaimanakah semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berderma. Jika ada yang meminta sesuatu, pasti beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memberinya. Maka ketika itu ada seseorang yang menghadap Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau memberinya kambing yang ada di antara dua bukit. Lantas orang yang telah memperoleh kambing tadi kembali ke kaumnya dan berkata, “Wahai kaumku, masuklah Islam. Karena Muhammad kalau memberi sesuatu, ia sama sekali tidak khawatir akan jatuh miskin.”</p>
<p>Ibnu Rajab dalam Lathoif Al Ma’arif mengatakan, “Demikianlah kedermawanan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semuanya beliau lakukan ikhlas karena Allah dan ingin mengharapkan ridho-Nya. Beliau sedekahkan hartanya, bisa jadi kepada orang fakir, orang yang butuh, atau beliau infakkan di jalan Allah, atau beliau memberi untuk membuat hati orang lain tertarik pada Islam. Beliau mengeluarkan sedekah-sedekah tadi dan lebih mengutamakan dari diri beliau sendiri, padahal beliau sendiri butuh.. … Sampai-sampai jika kita perhatikan bagaimana keadaan dapur beliau, satu atau dua bulan kadang tidak terdapat nyala api. Suatu waktu pula beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menahan lapar dengan mengikat batu pada perutnya.” Lihatlah bagaimana kedermawanan beliau yang luar biasa meskipun dalam keadaan hidup yang pas-pasan? Bagaimana lagi dengan kita yang diberi keluasan harta?!</p>
<p>Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih banyak lagi melakukan kebaikan di bulan Ramadhan. Beliau memperbanyak sedekah, berbuat baik, membaca Al Qur’an, shalat, dzikir dan i’tikaf.” (Zaadul Ma’ad, 2/25)</p>
<p>Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar melakukan kebaikan. Kedermawanan (kebaikan) yang beliau lakukan lebih lagi di bulan Ramadhan yaitu ketika Jibril ‘alaihis salam menemui beliau. Jibril ‘alaihis salam datang menemui beliau pada setiap malam di bulan Ramadhan (untuk membacakan Al Qur’an) hingga Al Qur’an selesai dibacakan untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila Jibril ‘alaihi salam datang menemuinya, tatkala itu beliau adalah orang yang lebih cepat dalam kebaikan dari angin yang berhembus.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Kenapa bisa sampai banyak berderma di bulan Ramadhan memiliki keutamaan?</p>
<p>Dengan banyak berderma seperti melalui memberi makan berbuka dan sedekah sunnah dibarengi dengan berpuasa, itulah jalan menuju surga. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari ‘Ali, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya.” Lantas seorang arab baduwi berdiri sambil berkata, “Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasululullah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Untuk orang yang berkata benar, yang memberi makan, dan yang senantiasa berpuasa dan shalat pada malam hari diwaktu manusia pada tidur.” (HR. Tirmidzi, hasan). Semua amalan yang disebutkan dalam hadits ini terdapat pada amalan puasa di bulan Ramadhan. Karena di bulan Ramadhan kita diperintahkan untuk berkata yang baik, bersedekah dengan memberi makan dan shalat malam. Para ulama memisalkan, “Shalat malam itu mengantarkan kepada separuh jalan menuju kerajaan kebahagiaan. Puasa itu mengantarkan pada depan pintunya. Sedangkan sedekah memasukkan ia pada pintu bahagia.”</p>
<p>Hikmah lain dari bersedekah di bulan Ramadhan disebutkan oleh Ibnu Rajab. Beliau rahimahullah mengatakan dalam Lathoif, “Dalam puasa pastilah ada celah atau kekurangan. … Sedekah itulah yang menutupi atau menambal kekurangan yang ada.” Oleh karena itu, di akhir Ramadhan kaum muslimin diwajibkan menunaikan zakat fithri dalam rangka untuk menambal kekurangan yang ada ketika melakukan puasa sebulan penuh.</p>
<p>Imam Asy Syafi’i juga menyebutkan faedah dari amalan banyak bersedekah di bulan Ramadhan. Beliau berkata, “Sesuatu yang paling disukai pada seseorang adalah ketika ia menambah amalan untuk banyak berderma di bulan Ramadhan. Hal ini ia lakukan dalam rangka mencontoh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga karena kebutuhan orang banyak saat itu sehingga mereka mendapatkan kemaslahatan. Ada sebagian orang sibuk dengan puasa dan shalat sehingga sulit untuk mencari nafkah.” (Dinukil dari Lathoif Al Ma’arif)</p>
<p>Semoga dengan motivasi kisah di atas semakin membuat kita gemar berderma dan beramal sholeh di bulan Ramadhan. Ingatlah sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sedekah tidak mungkin mengurangi harta.” (HR. Muslim). Wallahu waliyyut taufiq. (*)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber: www.rumaysho.com</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spektakuler.com/teladan-semangat-dalam-berderma/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Sabar yang Paling Mengagumkan</title>
		<link>http://spektakuler.com/kisah-sabar-yang-paling-mengagumkan/</link>
		<comments>http://spektakuler.com/kisah-sabar-yang-paling-mengagumkan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 07:30:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kesabaran]]></category>
		<category><![CDATA[sabar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spektakuler.com/?p=565</guid>
		<description><![CDATA[Prof. Dr. Khalid al-Jubair penasehat spesialis bedah jantung dan urat nadi di rumah sakit al-Malik Khalid di Riyadh mengisahkan sebuah kisah pada sebuah seminar dengan tajuk Asbab Mansiah (Sebab-Sebab Yang Terlupakan). Mari sejenak kita merenung bersama, karena dalam kisah tersebut ada nasihat dan pelajaran yang sangat berharga bagi kita. Sang dokter berkata: Pada suatu hari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://spektakuler.com/wp-content/uploads/2012/01/24-jan-2012-3.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-566" title="24 jan 2012 - 3" src="http://spektakuler.com/wp-content/uploads/2012/01/24-jan-2012-3.jpg" alt="" width="346" height="260" /></a></p>
<p>Prof. Dr. Khalid al-Jubair penasehat spesialis bedah jantung dan urat nadi di rumah sakit al-Malik Khalid di Riyadh mengisahkan sebuah kisah pada sebuah seminar dengan tajuk Asbab Mansiah (Sebab-Sebab Yang Terlupakan). Mari sejenak kita merenung bersama,<span id="more-565"></span> karena dalam kisah tersebut ada nasihat dan pelajaran yang sangat berharga bagi kita.</p>
<p>Sang dokter berkata:</p>
<p>Pada suatu hari -hari Selasa- aku melakukan operasi pada seorang anak berusia 2,5 tahun. Pada hari Rabu, anak tersebut berada di ruang ICU dalam keadaan segar dan sehat.</p>
<p>Pada hari Kamis pukul 11:15 -aku tidak melupakan waktu ini karena pentingnya kejadian tersebut- tiba-tiba salah seorang perawat mengabariku bahwa jantung dan pernafasan anak tersebut berhenti bekerja. Maka akupun pergi dengan cepat kepada anak tersebut, kemudian aku lakukan proses kejut jantung yang berlangsung selama 45 menit. Selama itu jantungnya tidak berfungsi, namun setelah itu Allah Subhanaahu wa Ta`ala menentukan agar jantungnya kembali berfungsi. Kamipun memuji Allah Subhanaahu wa Ta`ala .</p>
<p>Kemudian aku pergi untuk mengabarkan keadaannya kepada keluarganya, sebagaimana anda ketahui betapa sulit mengabarkan keadaan kepada keluarganya jika ternyata keadaannya buruk. Ini adalah hal tersulit yang harus dihadapi oleh seorang dokter. Akan tetapi ini adalah sebuah keharusan. Akupun bertanya tentang ayah si anak, tapi aku tidak mendapatinya. Aku hanya mendapati ibunya, lalu aku katakan kepadanya: “Penyebab berhentinya jantung putramu dari fungsinya adalah akibat pendarahan yang ada pada pangkal tenggorokan dan kami tidak mengetahui penyebabnya. Aku kira otaknya telah mati.”</p>
<p>Coba tebak, kira-kira apa jawaban ibu tersebut?Apakah dia berteriak? Apakah dia histeris? Apakah dia berkata: “Engkaulah penyebabnya!”Dia tidak berbicara apapun dari semua itu bahkan dia berkata:“Alhamdulillah.” Kemudian dia meninggalkanku dan pergi.</p>
<p>Sepuluh hari berlalu, mulailah sang anak bergerak-gerak. Kamipun memuji Allah Subhanaahu wa Ta`ala serta menyampaikan kabar gembira sebuah kebaikan yaitu bahwa keadaan otaknya telah berfungsi.</p>
<p>Pada hari ke-12, jantungnya kembali berhenti bekerja disebabkan oleh pendarahan tersebut. Kami pun melakukan proses kejut jantung selama 45 menit, dan jantungnya tidak bergerak. Maka akupun mengatakan kepada ibunya:“Kali ini menurutku tidak ada harapan lagi.” Maka dia berkata:“Alhamdulillah, ya Allah jika dalam kesembuhannya ada kebaikan, maka sembuhkanlah dia wahai Rabbi.”</p>
<p>Maka dengan memuji Allah, jantungnya kembali berfungsi, akan tetapi setelah itu jantung kembali berhenti sampai 6 kali hingga dengan ketentuan Allah Subhanaahu wa Ta`ala spesialis THT berhasil menghentikan pendarahan tersebut, dan jantungnya kembali berfungsi.</p>
<p>Berlalulah sekarang 3,5 bulan, dan anak tersebut dalam keadaan koma, tidak bergerak. Kemudian setiap kali dia mulai bergerak dia terkena semacam pembengkakan bernanah aneh yang besar di kepalanya, yang aku belum pernah melihat semisalnya. Maka kami katakan kepada sang ibu bahwa putra anda akan meninggal. Jika dia bisa selamat dari kegagalan jantung yang berulang-ulang, maka dia tidak akan bisa selamat dengan adanya semacam pembengkakan di kepalanya. Maka sang ibu berkata:“Alhamdilillah.” Kemudian meninggalkanku dan pergi. Setelah itu, kami melakukan usaha untuk merubah keadaan segera dengan melakukan operasi otak dan urat syaraf serta berusaha untuk menyembuhkan sang anak. Tiga minggu kemudian, dengan karunia Allah Subhanaahu wa Ta`ala , dia tersembuhkan dari pembengkakan tersebut, akan tetapi dia belum bergerak.</p>
<p>Dua minggu kemudian, darahnya terkena racun aneh yang menjadikan suhunya 41,2oC. maka kukatakan kepada sang ibu:“Sesungguhnya otak putra ibu berada dalam bahaya besar, saya kira tidak ada harapan sembuh.” Maka dia berkata dengan penuh kesabaran dan keyakinan:“Alhamdulillah, ya Allah, jika pada kesembuhannya terdapat kebaikan, maka sembuhkanlah dia.”</p>
<p>Setelah aku kabarkan kepada ibu anak tersebut tentang keadaan putranya yang terbaring di atas ranjang nomor 5, aku pergi ke pasien lain yang terbaring di ranjang nomor 6 untuk menganalisanya. Tiba-tiba ibu pasien nomor 6 tersebut menagis histeris seraya berkata:“Wahai dokter, kemari, wahai dokter suhu badannya 37,6o, dia akan mati, dia akan mati.” Maka kukatakan kepadanya dengan penuh heran:“Lihatlah ibu anak yang terbaring di ranjang no 5, suhu badannya 41o lebih sementara dia bersabar dan memuji Allah.” Maka berkatalah ibu pasien no. 6 tentang ibu tersebut:“Wanita itu tidak waras dan tidak sadar.”</p>
<p>Maka aku mengingat sebuah hadits Rasulullah Sholallohu `alaihi wa sallam yang indah lagi agung:“Beruntunglah orang-orang yang asing.” Sebuah kalimat yang terdiri dari dua kata, akan tetapi keduanya menggoncangkan ummat. Selama 23 tahun bekerja di rumah sakit aku belum pernah melihat dalam hidupku orang sabar seperti ibu ini kecuali dua orang saja.</p>
<p>Selang beberapa waktu setelah itu ia mengalami gagal ginjal, maka kami katakan kepada sang ibu:“Tidak ada harapan kali ini, dia tidak akan selamat.” Maka dia menjawab dengan sabar dan bertawakkal kepada Allah:“Alhamdulillah.” Seraya meninggalkanku seperti biasa dan pergi.</p>
<p>Sekarang kami memasuki minggu terakhir dari bulan keempat, dan anak tersebut telah tersembuhkan dari keracunan. Kemudian saat memasuki pada bulan kelima, dia terserang penyakit aneh yang aku belum pernah melihatnya selama hidupku, radang ganas pada selaput pembungkus jantung di sekitar dada yang mencakup tulang-tulang dada dan seluruh daerah di sekitarnya. Dimana keadaan ini memaksaku untuk membuka dadanya dan terpaksa menjadikan jantungnya dalam keadaan terbuka. Sekiranya kami mengganti alat bantu, anda akan melihat jantungnya berdenyut di hadapan anda..</p>
<p>Saat kondisi anak tersebut sampai pada tingkatan ini aku berkata kepada sang ibu:“Sudah, yang ini tidak mungkin disembuhkan lagi, aku tidak berharap. Keadaannya semakin gawat.” Diapun berkata:“Alhamdulillah.” Sebagaimana kebiasaannya, tanpa berkata apapun selainnya.</p>
<p>Kemudian berlalulah 6,5 bulan, anak tersebut keluar dari ruang operasi dalam keadaan tidak berbicara, melihat, mendengar, bergerak dan tertawa. Sementara dadanya dalam keadaan terbuka yang memungkinkan bagi anda untuk melihat jantungnya berdenyut di hadapan anda, dan ibunyalah yang membantu mengganti alat-alat bantu di jantung putranya dengan penuh sabar dan berharap pahala.</p>
<p>Apakah anda tahu apa yang terjadi setelah itu?</p>
<p>Sebelum kukabarkan kepada anda, apakah yang anda kira dari keselamatan anak tersebut yang telah melalui segala macam ujian berat, hal gawat, rasa sakit dan beberapa penyakit yang aneh dan kompleks? Menurut anda kira-kira apa yang akan dilakukan oleh sang ibu yang sabar terhadap sang putra di hadapannya yang berada di ambang kubur itu? Kondisi yang dia tidak punya kuasa apa-apa kecuali hanya berdo’a, dan merendahkan diri kepada Allah Subhanaahu wa Ta`ala ?</p>
<p>Tahukah anda apa yang terjadi terhadap anak yang mungkin bagi anda untuk melihat jantungnya berdenyut di hadapan anda 2,5 bulan kemudian?</p>
<p>Anak tersebut telah sembuh sempurna dengan rahmat Allah Subhanaahu wa Ta`ala sebagai balasan bagi sang ibu yang shalihah tersebut. Sekarang anak tersebut telah berlari dan dapat menyalip ibunya dengan kedua kakinya, seakan-akan tidak ada sesuatupun yang pernah menimpanya. Dia telah kembali seperti sedia kala, dalam keadaan sembuh dan sehat.</p>
<p>Kisah ini tidaklah berhenti sampai di sini, apa yang membuatku menangis bukanlah ini, yang membuatku menangis adalah apa yang terjadi kemudian:</p>
<p>Satu setengah tahun setelah anak tersebut keluar dari rumah sakit, salah seorang kawan di bagian operasi mengabarkan kepadaku bahwa ada seorang laki-laki berserta istri bersama dua orang anak ingin melihat anda. Maka kukatakan kepadanya:“Siapakah mereka?” Dia menjawab,“Tidak mengenal mereka.”</p>
<p>Akupun pergi untuk melihat mereka, ternyata mereka adalah ayah dan ibu dari anak yang dulu kami operasi. Umurnya sekarang 5 tahun seperti bunga dalam keadaan sehat, seakan-akan tidak pernah terkena apapun, dan juga bersama mereka seorang bayi berumur 4 bulan.</p>
<p>Aku menyambut mereka, dan bertanya kepada sang ayah dengan canda tentang bayi baru yang digendong oleh ibunya, apakah dia anak yang ke-13 atau 14? Diapun melihat kepadaku dengan senyuman aneh, kemudian dia berkata:“Ini adalah anak yang kedua, sedang anak pertama adalah anak yang dulu anda operasi, dia adalah anak pertama yang datang kepada kami setelah 17 tahun mandul. Setelah kami diberi rizki dengannya, dia tertimpa penyakit seperti yang telah anda ketahui sendiri.”</p>
<p>Aku tidak mampu menguasai jiwaku, kedua mataku penuh dengan air mata. Tanpa sadar aku menyeret laki-laki tersebut dengan tangannya kemudian aku masukkan ke dalam ruanganku dan bertanya tentang istrinya. Kukatakan kepadanya:“Siapakah istrimu yang mampu bersabar dengan penuh kesabaran atas putranya yang baru datang setelah 17 tahun mandul? Haruslah hatinya bukan hati yang gersang, bahkan hati yang subur dengan keimanan terhadap Allah Subhanaahu wa Ta`ala.”</p>
<p>Tahukah anda apa yang dia katakan?</p>
<p>Diamlah bersamaku wahai saudara-saudariku, terutama kepada anda wahai saudari-saudari yang mulia, cukuplah anda bisa berbangga pada zaman ini ada seorang wanita muslimah yang seperti dia.</p>
<p>Sang suami berkata:“Aku menikahi wanita tersebut 19 tahun yang lalu, sejak masa itu dia tidak pernah meninggalkan shalat malam kecuali dengan udzur syar’i. Aku tidak pernah menyaksikannya berghibah (menggunjing), namimah (adu domba), tidak juga dusta. Jika aku keluar dari rumah atau aku pulang ke rumah, dia membukakan pintu untukku, mendo’akanku, menyambutku, serta melakukan tugas-tugasnya dengan segenap kecintaan, tanggung jawab, akhlak dan kasih sayang.”</p>
<p>Sang suami menyempurnakan ceritanya dengan berkata:</p>
<p>“Wahai dokter, dengan segenap akhlak dan kasih sayang yang dia berikan kepadaku, aku tidak mampu untuk membuka satu mataku terhadapnya karena malu.” Maka kukatakan kepadanya: “Wanita seperti dia berhak mendapatkan perlakuan darimu seperti itu.” Kisah selesai.</p>
<p>Kukatakan:</p>
<p>Saudara-saudariku, kadang anda terheran-heran dengan kisah tersebut, yaitu terheran-heran terhadap kesabaran wanita tersebut, akan tetapi ketahuilah bahwa beriman kepada Allah Subhanaahu wa Ta`ala dengan segenap keimanan dan tawakkal kepada-Nya dengan sepenuhnya, serta beramal shalih adalah perkara yang mengokohkan seorang muslim saat dalam kesusahan, dan ujian. Kesabaran yang demikian adalah sebuah taufik dan rahmat dari Allah Subhanaahu wa Ta`ala .</p>
<p>Allah Subhanaahu wa Ta`ala berfirman:</p>
<p>“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157)</p>
<p>Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ` bersabda:</p>
<p>“Tidaklah menimpa seorang muslim dari keletihan, sakit, kecemasan, kesedihan tidak juga gangguan dan kesusahan, hingga duri yang menusuknya, kecuali dengannya Allah Subhanaahu wa Ta`ala akan menghapus kesalahan-kesalahannya.” (HR. al-Bukhari (5/2137))</p>
<p>Maka, wahai saudara-saudariku, mintalah pertolongan kepada Allah Subhanaahu wa Ta`ala , minta dan berdo’alah hanya kepada Allah Subhanaahu wa Ta`ala terhadap berbagai kebutuhan anda sekalian.</p>
<p>Bersandarlah kepada-Nya dalam keadaan senang dan susah. Sesungguhnya Dia Subhanaahu wa Ta`ala adalah sebaik-baik pelindung dan penolong.</p>
<p>Mudah-mudahan Allah Subhanaahu wa Ta`ala membalas anda sekalian dengan kebaikan, serta janganlah melupakan kami dari do’a-do’a kalian.</p>
<p>“Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu).” (QS. Al-A’raf: 126) .</p>
<p>(Sumber: Majalah Qiblati )</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spektakuler.com/kisah-sabar-yang-paling-mengagumkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cara Menyantuni Yatim</title>
		<link>http://spektakuler.com/cara-menyantuni-yatim/</link>
		<comments>http://spektakuler.com/cara-menyantuni-yatim/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 07:26:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[cara]]></category>
		<category><![CDATA[cara menyantuni yatim]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[yatim piatu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spektakuler.com/?p=562</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Prof Dr KH Achmad Satori Ismail Diriwayatkan dari Zainab istri Ibnu Mas’ud, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Wahai para wanita, bersedekahlah walaupun dari perhiasan kamu.” Zainab berkata, “Aku pergi kepada Abdullah (Ibnu Mas’ud) dan berkata, “Sesungguhnya engkau adalah laki-laki ringan yang suka membantu, sesungguhnya Rasulullah SAW memerintahkan kami (para wanita) untuk bersedekah. Maka, datanglah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://spektakuler.com/wp-content/uploads/2012/01/24-jan-2012-2.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-563" title="24 jan 2012 - 2" src="http://spektakuler.com/wp-content/uploads/2012/01/24-jan-2012-2.jpg" alt="" width="390" height="260" /></a></p>
<p>Oleh: Prof Dr KH Achmad Satori Ismail</p>
<p>Diriwayatkan dari Zainab istri Ibnu Mas’ud, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Wahai para wanita, bersedekahlah walaupun dari perhiasan kamu.”  Zainab berkata, “<span id="more-562"></span>Aku pergi kepada Abdullah (Ibnu Mas’ud) dan berkata, “Sesungguhnya engkau adalah laki-laki  ringan yang suka membantu, sesungguhnya Rasulullah SAW memerintahkan kami (para wanita) untuk bersedekah. Maka, datanglah kepadanya dan tanyakan barang kali sedekah kepadamu sudah dianggap sedekahku. Bila tidak, maka aku akan keluarkan sedekah kepada selain kamu.”</p>
<p>Zainab mengatakan, maka Abdullah bin Mas’ud berkata kepadanya. “Kamu sajalah yang datang.” Zainab pergi menemui Rasulullah dan di depan pintu rumah Rasulullah ada perempuan Anshar yang punya kebutuhan yang sama.</p>
<p>Tak lama kemudian, datang Bilal. Zainab berkata kepadanya dan memohon kepada Bilal untuk menyampaikan kepada Rasulullah bahwa ada dua orang perempuan yang sedang menunggu di depan pintu rumahnya dan bertanya tentang sedekah kepada suami dan anak-anak yatim di rumah mereka, apakah mereka itu akan mendapat balasan pahala?</p>
<p>Bilal pun masuk dan menyampaikan pertanyaan tersebut. Rasulullah SAW bertanya, “Siapa mereka berdua?” Bilal menjawab, “Seorang wanita Anshar dan Zainab.” Nabi SAW bertanya, “Zainab yang mana?” Bilal berkata, “Zainab istri Abdullah (Ibnu Mas’ud).</p>
<p>Kemudian Rasulullah SAW bersabda kepada Bilal, “Mereka berdua mendapatkan dua pahala, yakni pahala menjaga kekerabatan dan pahala sedekah.” ( HR Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Dari keterangan di atas, hakikatnya menyantuni anak yatim itu adalah dengan cara membawa anak yatim ke dalam keluarga, mencukupi kebutuhannya, mengajari dan mendidiknya sampai balig. Itulah bentuk santunan kepada anak yatim yang paling utama. Penjamin anak yatim harus memperlakukan mereka seperti keluarganya sendiri dalam hal sandang, pangan, dan pendidikan. Itulah yang dilakukan para sahabat, sebagaimana dilukiskan dalam hadis di atas.</p>
<p>Selain kedua cara di atas, cara lainnya adalah mengelola harta anak mereka secara syariah dan keuntungan yang didapat dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Rasulullah SAWbersabda, “Penyantun anak yatim yang berasal dari kerabatnya atau anak yatim dari orang lain akan bersama denganku di surga, seperti jari telunjuk dan jari tengah.”</p>
<p>Di antara kriteria menyantuni anak yatim itu, antara lain, menjamin seluruh kebutuhan pokoknya seperti sandang, pangan, dan tempat tinggal, memenuhi kebutuhan pendidikannya dengan layak sehingga mereka tidak merasakan perbedaan antara dirinya dengan anak-anak lainnya.</p>
<p>Ada beberapa keutamaan bagi mereka yang menjadi penyantun anak yatim. Pertama, menjadi teman Rasulullah SAW dalam surga. Kedua, akan membersihkan pikiran, melembutkan dan menghilangkan kekerasan hatinya. Ketiga, menjadi penyembuh dari berbagai penyakit kejiwaan. Keempat, memiliki kepedulian sosial karena menolong dan membantu orang yang membutuhkan, sebagaimana diajarkan dalam Islam.Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita untuk dicenderungkan menyantuni anak yatim. Amien. Wallahu a’lam.</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spektakuler.com/cara-menyantuni-yatim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

